YANWORKS.WEB.ID/blog

Sesuatu yang ingin ditulis dan dibaca sebagaimana mestinya.

music of the week – Fryda Luciana

November10

Sedikit kilas balik, sebuah lagu dari jaman tahun 1997-1998 an kalo tidak salah, menjadi lagu favorit dan lagu kenangan hingga saat ini, hanya ingin berbagi saja, siapa tahu ternyata banyak yang sependapat dengan saya, silahkan di apresiasi:

Sgala Rasa Cinta
by Fryda Luciana

Sgala rasa cintaku telah kuberi
Hingga terbelah hatiku ini hanya untukmu
Takkan ada yang lain
Duhai kasih kaulah satu janji kita selalu
Tak mungkin lagi masa menghapus

Indah cinta bila buai kasih mengalun nada
Putih suci abadi mewangi
Hancur jiwa ini bila kasih tak menyentuh
Cintamu rasamu

Sgala rasa cintaku hanya untukmu
Bahagia dalam pelukanmu khayal mimpiku
Takkan ada yang lain
Duhai kasih kaulah satu
Bersama ‘kan selalu
Merajut hadir engkau dan aku

Indah cinta bila buai kasih mengalun nada
Putih suci abadi mewangi
Hancur jiwa ini bila kasih tak menyentuh
Cintamu rasamu

Kuingin jangan pernah berakhir
Dalam doa slalu

Indah cinta bila buai kasih mengalun nada
Putih suci abadi mewangi
Hancur jiwa ini bila kasih tak menyentuh
Cintamu rasamu

Dengarkan lagunya disini:

Share This Post
posted under Uncategorized | | 2 Comments »

puisi anak dari lombok – Air

October19

Beberapa waktu lalu saya melihat pameran hasil ekspedisi dari teman-teman MAPAGAMA (Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada) yang berlokasi di lombok. Kegiatan itu menurut saya cukup luar biasa dan inspiratif, karena banyak program yang dilaksanakan mengena dengan kondisi masyarakat disana, dan yang membuat saya sedikit salut adalah peserta dari ekspedisi itu adalah semua mahasiswi (putri), makanya nama ekspedisinya adalah Ekspedisi Putri Rinjani.

Trus yang membuat saya tertarik dari pameran itu adalah salah satu puisi yang waktu itu dipamerkan yang merupakan hasil ciptaan dari anak-anak di Lombok sana, sebenarnya puisinya cukup sederhana, tapi menurut saya sangat bagus, sederhana tapi sangat penuh makna… berikut puisi tersebut beserta gambar aslinya (maaf gambarnya agak kabur) :

Nama Saya Is

Air

air itu membuat kita mandi air membuat kita minum
air membuat kita masak air membuat kita hidup
air itu membuat kita hidup air itu akan membuat kita
hidup karna air itu membuat kita hidup karna
percaya hidup karna air itu karna air itu
air itu mencuci air itu membuat kita bahagia
air jangan dicemarkan air itu

Share This Post
posted under Hobby, InterestThing, LifeStyle, Personal | | 1 Comment »

Wajahmu Mengalihkan Duniaku…

October19

WAJAHMU MENGALIHKAN DUNIAKU
by Afgan Syah Reza

Ketika kau lewat di bumi tempat ku berdiri
Kedua mata ini tak berkedip menatapi
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu

Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Hey .. Hey .. Hey.. Pesonamu
Dan wajahmu mengalihkanku

Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu

Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Hidupku penuh warna
Ku selalu mendekatimu memberi tanda cinta hooo ooo..

Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku

Share This Post
posted under Movie, Music, Personal | | No Comments »

Batik Indonesia

October16

“merintang warna tradisi lama, menoreh karya kaya makna, cetusan sukma latar budaya, harapan hidup jadi bermakna

wastra budaya adiluhung, penuh kearifan cipta rasa karsa, dilambari niat menembah manekung, identitas budaya keberadaan bangsa”

Batik berasal dari kata “ambatik” (menulis titik) yang berarti membuat titik-titik hingga menjadi sebuah motif utuh. Banyak yang beranggapan bahwa batik berasal dari Indonesia, namun beberapa sumber mengatakan bahwa karya seperti batik tidak saja berasal dari Indonesia. Mungkin lebih bijaknya dikatakan bahwa karya seperti batik merupakan bagian dari peradaban dunia masa lalu. Bagaimanapun asal muasalnya, yang jelas batik yang eksis hingga saat ini adalah batik Indonesia.

Belum diketahui kapan pastinya batik itu mulai ada, tapi motif-motif batik yang ada hingga saat ini, dapat dilihat di beberapa artefak budaya berupa candi-candi seperti motif dasar lereng pada patung emas Syiwa abad 9 di Gemuruh Wonosobo; dasar motif ceplok pada pakaian patung Ganesha di Candi Banon dekat Borobudur (abad 9); motif liris pada Manjusri Ngemplak Semongan Semarang (awal abad 10). Sangat dimengerti karena batik juga merupakan salah satu karya seni yang melukiskan budaya sehingga berkaitan dengan karya budaya yang lainnya. Sebagai salah satu karya budaya bangsa, atau disebut barang budaya, batik pun berkembang sesuai jamannya.

Motif batik terekam secara pasti sejak jaman Mataram Islam yang berasal dari kalangan kraton, seperti parang rusak, semen rama, dll yang kemudian dikenal sebagai motif batik tradisional. Dari kraton inilah motif batik “diuri-uri” bahkan sebagai busana yang diatur penggunaannya, sehingga timbul adanya “motif larangan” yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan strata tertentu.

Perkembangan motif batik Kraton menyebar bersama dengan berkembangnya hubungan dengan luar Kraton melalui perkawinan, niaga dan lain sebagainya. Sehingga motif batik kraton pun berkembang di luar Kraton Mataram. Dengan demikian muncul pula motif-motif batik pengaruh Kraton yang tersebar di Nusantara terutama di pulau jawa.

Keindahan batik Kraton yang dikala itu dikenakan sebagai “jarik” (berasal dari kata ojo sok serik – jangan suka sirik/iri) menarik masyarakat di luar kraton untuk bisa mengenakannya. Agar bisa mengenakan tanpa melanggar aturan yang telah ditetapkan, terciptalah motif-motif yang indah sebagai modifikasi motif batik kraton yang disebut motif batik Sudagaran yang tidak kalah indah dan halus dalam pengerjaannya. Dalam mengembangkan motif pada produk batiknya para saudagar/pengusaha batik inipun berinovasi sehingga mempunyai ciri khas, yang sekaligus memperkaya keanekaragaman motif batik Indonesia.

Perkembangan batik tidak hanya pada motifnya tetapi juga cara atau teknik pengerjaannya. Disamping itu juga pada bahan bakunya yang tidak hanya pada kain katun (mori), serta penggunaannya atau fungsinya tidak hanya sebagai jarik atau dodot.

Dari cara pengerjaan rintang warna, muncul canting cap dari yang semula canting tulis. Sehingga dikenal adanya batik tulis, batik cap dan batik kombinasi (tulis dengan cap). Juga pada proses ngengreng (mempola). Sehingga yang disebut batik salah satunya memenuhi syarat dengan proses perintangan warnyanya dengan lilin (malam).

Berkembangnya jaman menyebabkan batik pun berkembang, baik sebagai barang seni/barang budaya maupun sebagai komoditas ekonomi. Diharapkan batik main berkembang, namun jangan sampai perkembangannya tercerabut dari akarnya, dalam arti kearifan yang terkandung dalam simbolisasi motifnya, pada pengerjaanya yang ramah lingkungan tidak diabaikan atau ditinggalkan begitu saja. Untuk itula pengenalan, sosialisasi, pengajaran tentang batik secara utuh tetap diperlukan dan dilestarikan sebagai salah satu identitas, jati diri bangsa yang diharapkan bisa memperkokoh rasa dan wawasan kebangsaan.

sumber: Pameran Batik Nusantara – Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad.

Share This Post
posted under Hobby, InterestThing, LifeStyle, SimpleScience | | No Comments »

Cerita Bintang

October13

Untuk beberapa posting terakhir memang aku repost beberapa syair hasil buatanku sendiri, soalnya dari pada kosong melompong gak ada posting. Yah, itung2 temanya tentang sastra… silahkan simak yang satu ini.

CERITA BINTANG

Tak lagi aku bisa berbohong
Tentang apa yang aku rasakan
Saat pagi datang dan matahari bersinar
Embun dan rumput-rumput itu tampak mesra
Seraya mereka bercumbu di hadapanku
Menyanyikan lagu cinta pada sang mentari

Pada burung-burung yang berkicauan itu
Aku menyampaikan salamku pada langit
Dan dialog pada sang awan.

Jika langkahku terdiam diantara rumput-rumput itu
Dan mataku terpaku pada garis horizon disana
Aku merasakan angin berhembus lewat telinga
Dan sinar itu menembus balik bajuku

Aku biarkan tubuhku terbaring di atas batu
Pada sang batu kuceritakan sekilas hidupku

Jika hitam mulai datang
Dan benda bernama bulan itu bercahaya
Aku hanya bisa berbicara pad sang bintang
Dan air matanya mulai menetes
Serasa menghentikan ceritaku

Tapi sang batu tetap diam
Andai kumarahi pun ia tidak bersuara
Kupukul dia karena tak menjawab
Sampai merah tanganku, aku menatapnya
Ia hanya berkata saat ia bertemu batu lain
Dengan suara nyaring tapi tak merdu itu
Mereka berbisik satu sama lain
Seperti ia sedang mengataiku

Aku memang sedikit tak sadar
Sampai birunya langit itupun
Aku tak lagi melihatnya indah
Tapi pada butiran air sungai
Kurasakan kedamaian yang mendalam
Sama saat kuhirup udara pagi tadi

Sekarang kurasakan terbang
Membawaku melewati pohon rindang
Gunung-gunung dan bukit terjal
Sampai burung kulihat terbang ke belakang
Kemudian aku jatuh

Dalam sakit aku berkata
“Jika benar kau! Sakit dating membawa luka,
Kenapa tak hilang saat tubuh memutih”
Padahal padanya aku bertambat
Yang kini hilang karena luka yang tak mau hilang
Dan pergi karena sakit yang tak ingin pergi

Kakiku serasa kaku
Ku coba melangkah tuk gapai cahaya
Sampai pada sinar itu aku berhenti
Mencoba terdiam tuk batasi jalanku

Selalu saja aku tersesat
Pada jalan yang selalu berbelok ke kiri
Saat bertemu persimpangan empat
Dan jalan-jalan tak bertanda

Tapi selalu kutemui jalan yang lebih terang
Kesana aku berjalan
Dan aku temui kehidupan yang lebih nyata
Seperti matahari, rumput, dan burung-burung
Angin yang berhembus dan ceritaku pada sang bintang

14112003
yanwar i m

Share This Post
posted under Personal | | No Comments »

satu syair dari Karimunjawa ku

October8

Kemaren, cahaya mentari merah jambu, jatuh lembut di warna hijau dedaunan, perpaduan warna yang jarang kunikmati hingga saat ini. memang sore itu sore yang cerah di Karimunjawa. Sebuah pulau di tengah laut jawa yang tak kalah dengan kepulauan Maladewa.

Angin paginya menyegarkan dada, dan cahaya suryanya menghangatkan raga, sedang kuning emas senjanya memanjakan mata.
Andai ia jadi kesini, akan kuceritakan tentang nyanyian ombak yang mengalun diatas pasir, akan kubagikan suasana senja yang akan membuatnya menutup mata untuk sementara, menikmati hari ini dari lubuk hati. tak perlu melihat karena setiap indra turut merasakan, tak perlu mendengar karena seluruh jiwa ini cukup tergetar dan cukup bisa menikmati dengan setiap detik yang terbuang.

Yah, itu jika ia jadi kesini… banyak yang ingin aku berikan, banyak yang ingin aku isyaratkan.

Hah… memang berkhayal itu melelahkan…

Share This Post
posted under Personal | | No Comments »

Syair Penuh Rahasia

June28

Pernah aku membuat janji untuk upload semua syair yang pernah ku tulis di Blogku ini, dan kupikir tidak ada salahnya untuk memulai dari sekarang. Bingung juga untuk memulai dari syair yang mana, sampai akhirnya kupilih yang ini:

Sebuah gubahan dari prosa yang ditulis oleh salah satu sastrawan angkatan 66 (kalo tidak salah…), silahkan dibaca:

PENUH RAHASIA

Jauh disana terhampar rumput hijau
Dibawah lingkungan pembatasan bumi dengan langit
Segaris hijau kebiruan pohon-pohonan
Langit yang kuning muda bersisik putih
Diantaranya terjalin warna sepuhan emas perada

Jauh sedikit dari sana
Tumpukan awan berbagai bentukyang terhalus puspa warna

Tak jauh darinya bintang sebuah kerlip-mengerlip seakan mata masih rungau
Terkadang-kadang benda kecil itu hilang disembunyikan awan putih

Hei, puspa warna berangsur menghilang lenyap di balik garis hijau tadi
Serta pancaran emas gagah perkasa itu diselimuti oleh awan tipis berbercak

Mengapa gelap ?
Mengapa berganti warna semacam ini, selaku sayu pandangan ?
Mengapa matahari kan sembunyi sendiri ?

Dingin …
Seluk membelai kenangan impian masa silam
Membangkit, mengorek perbendaharaan di kalbu

Mengapa mega kau tak bersolek lagi ?
Mengapa langit melengkung putih kebiruan menolak warna ?
Mengapa isi alam sunyi diam menyambut perubahan siang dan malam ?
Bukankah dibalik perubahan yang dingin mati disambut angin menyegar tubuh
Akh, bukankah Si Raja Siang yang gagah perkasa, yang memerintah selama siang itu
Diganti oleh Si Dewi Malam
Si Cantik manis akan memerintah semalaman dengan belaian sinar yang lembut itu
Dan di sisi sepuhan perak
Berkilau kerlipan permata terhampar di beledu biru
Bersukaria bermain caya

Bukankah,
Bukankah ribuan permata intan berlian
Tanding-bertanding menguji caya
Siapa terindah diantara berjuta ?
Memanglah
Tiap-tiap perubahan mengandung penuh rahasia

091999
yanwar i m

Share This Post
posted under Hobby, Kisah Inspirasi, Personal | | No Comments »

KKN Ku Karimunjawa

June24
Foto Anggota Tim KKN saat makrab di Pantai Sundak.

Foto Anggota Tim KKN saat makrab di Pantai Sundak.

Banyak hal yang bisa diceritakan dari perjalananku dalam mempersiapkan KKN ku di Kepulauan Karimunjawa. Selain dari seringnya kami kumpul dan bersenang-senang, ada juga kalanya kami bersitegang dan menghadapi konflik. Tapi semua itulah yang membuat kami seperti sekarang ini… Kami siap berangkat dan mengabdikan diri pada masyarakat, semoga kalian juga berdoa agar KKN kami berjalan lancar dan sukses.

Dulu, aku pernah membuat beberapa buah puisi untuk semua teman-teman KKN Ku seiring perjalanan kami… dan beginilah beberapa puisi tersebut:

________________________________________________

aku berada di tengah keramaian tapi aku kesepian
ingin aku berteriak sekeras-kerasnya tapi suara ini tak mau keluar
dan jiwa ini tak lekas tergetar

haruskah kupalingkan mukaku dari mereka yang telah mengiringiku selama ini
haruskah kuhabiskan semua rasa sesalku pada sesuatu yang tak pernah kutahu ada
sedang aku hanya berada di belakang mereka
tanpa bisa menyapa, tanpa bisa berkata
aku disini menunggu kalian menjemputku
mengajakku berjalan bersama menuju pulau yang telah menanti kita di ujung jauh horison sana.

2 april 2009
yanz

________________________________________________

jika tujuh bintang itu tak lagi bersinar
haruskah aku terus menyanyikan lagu rindu
haruskah aku terus mendengar senandung pilu
ataukah aku harus beranjak pergi dan tak berpaling lagi

jika pucuk daun itu tak lagi berembun
haruskah aku meringkuk dengan perasaan sendu
haruskah aku terlentang membebaskan perasaan luka
ataukah aku harus berlari dan berteriak sekeras-kerasnya

sudah kuputuskan, aku akan berdiri pada tiang-tiang yang tegak diatas harapan dan mimpi
akan kutunggu kalian hingga bintang itu bersinar dan pucuk daun itu berembun kembali

2 april 2009
yanz

________________________________________________

malam semakin larut dan dingin
aku masih mendengar mereka memetik gitar dan bernyanyi
dan aku tak lagi sendiri
karena malam ini aku tahu
bersama mereka aku yakin bisa
walau hati ini akan tetap terluka nantinya
tapi kutahu itu tak akan sia-sia
terima kasih kawan
mulai malam ini aku akan tetap bersama kalian.

2 april 2009
yanz

________________________________________________

Untuk semua kalian teman-teman KKN Ku di Karimunjawa nantinya, persiapkan diri kita masing-masing, karena aku sadar betul bahwa semua ini tidak akan mudah, tapi aku harap kita bisa melalui semua ini dengan baik.

Dan ingatlah, bahwa waktu-waktu inilah yang akan kita kenang sepanjang hidup kita.
Salam persahabatan dari Kormanit kalian.

you’ll never KKN alone

tanpa lilin,
Yanwar Iswahyudi M.

Share This Post
posted under LifeStyle, My Comment, Personal | | 2 Comments »

my recent poems

June21

Hanya ingin bercerita bahwa beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang memberikan apresiasinya pada puisiku yang dulu. Trus dia meminta penjelasan tentang puisi itu melalui status facebooknya. Yah, untuk menghormatinya maka aku menjawab dengan sebuah puisi lain, berikut jawaban tersebut…

Dari sudut manakah harus kujelaskan…
Setiap alasan akan rasa cinta itu
Jika setiap kiasan yang akan kuungkapkan
Membuatku terkenang dan haru.

Dari sisi mana harus kuceritakan
Setiap jawaban semua pertanyaan itu
Jika setiap kata yang akan kuucapkan
Membuatku lemah dan rindu.

Yang kutahu hanya…
Pada rasa itu aku merasakan dirinya
Pada kisah itu aku mengenang dirinya
Dan pada setiap puisi yang tercipta
Kugantungkan harapanku untuk bersamanya…

21062009
yanwar i m

hahaha, sedikit kikuk saat membuat puisi semacam ini lagi, karena masa-masa itu sudah lama berlalu… sudah lama sekali aku tidak menulis… apa lagi puisi semacam diatas… yah terima kasih lah untuk Shovey yang membuatku bersemangat lagi, terima kasih atas apresiasinya…

Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, Personal | | 1 Comment »

Curhat Buat Sahabat – Dee

April10

Beberapa waktu lalu aku lagi membaca bukunya Dewi Lestari (Dee) yang berjudul Rectoverso. Buku yang merupakan kumpulan 11 cerpen ini apik disajikan dengan format cerpen-lagu dalam setiap kisahnya. Menurutku ini merupakan sebuah karya hibrid yang luar biasa. Tagline untuk buku ini pun lumayan menarik “Dengarkan kisahnya, Baca musiknya.”

Salah satu kisah yang ada dalam buku itu berjudul “Curhat Buat Sahabat” yang menurut saya sebuah cerita yang mengagumkan. Aku suka bagaimana Dee menceritakan kisahnya dengan bahasa yang sederhana, ringan, mudah namun tidak ‘vulgar’, maksudnya, inti cerita diceritakan secara implisit, tidak terang2an. Konon cerita ini adalah cerita Dee dengan suami barunya. Simak saja cerita dan lagu berikut:

CURHAT BUAT SAHABAT – DEE

Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

“Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini.” Katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan mala mini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh tintamu ke-1, empat tahun yang lalu. “Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?” tanyaku, berusaha santai.

“Malam ini aku lahir baru.”

“Kamu… bertobat?”

“Bisa jadi itu istilahnya!” tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, “Aku… selesai.”

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

“Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!” Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

“Kenapa?” tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata Tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubliang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, dimana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian disitu. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berbanti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa saja, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

“Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin.” Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. “Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku Cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong…”

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

“Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku… dan segelas air putih.”

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

“Tapi… aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…” katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

“Orang… yang begitu tahu aku sakit… mau jam berapapun… langsung datang…” Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku bordering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Lalu ia minta dibawakan segelah air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu. “Keinginan itu… tidak ketinggian , kan?”

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putrid minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

”Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?” demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

”Aku akan diam,” jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

”Diam?”

”Ya. Diam! Diam ditempat. Tidak ada lagi usha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yankin diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, ”Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!”

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

”Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

”Ya.”

”Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?”

”Ya.”

Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

Share This Post
posted under InterestThing, Kisah Inspirasi | | 3 Comments »
« Older Entries