YANWORKS.WEB.ID/blog

Sesuatu yang ingin ditulis dan dibaca sebagaimana mestinya.

Sajakku di Karimunjawa

August13

Kemarin, cahaya mentari merah jambu, jatuh lembut di warna hijau dedaunan, perpaduan warna yang jarang kunikmati hingga saat ini.

Memang sore itu sore yang cerah di Karimunjawa. Sebuah pulau di tengah Laut Jawa yang tak kalah dengan Kepulauan Maladewa.

Angin paginya menyegarkan dada, dan cahaya suryanya menghangatkan raga, sedang kuning emas senjanya memanjakan mata.

Andai ia jadi kesini, akan kuceritakan tentang nyanyian ombak yang mengalun diatas pasir, akan kubagikan suasana senja yang akan membuatnya menutup mata sementara, menikmati hari ini dari lubuk hati, tak perlu melihat karena setiap indra turut merasakan, tak perlu mendenganr karena seluruh jiwa cukup tergetarkan, dan segenap rasa cukup menikmati setiap detik yang terbuang.

Yah.. itu jika ia jadi kesini, banyak yang ingin aku berikan, banyak yang ingin aku isyaratkan.. hah, memang berkhayal itu melelahkan…

15 Juli 2009
saat mentari mulai membentuk bayang

Yanwar I.M.

Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, LifeStyle, Personal | | 1 Comment »

bulan merah – poems

June10

Kebetulan beberapa waktu lalu saya menemukan satu file puisi yang sepertinya terpisah dengan kumpulan puisi yang saya punya. Hanya ingin berbagi saja, siapa tahu ada yang suka, tapi maaf jika memang tidak bagus, soalnya saya bukan pujangga. Terima kasih untuk apresiasinya.

TO: someone in UGM

Bulan Merah

Dua, tiga, bahkan empat kata pun tak cukup
Untuk isyaratkan rasa, saat mata ini mulai memihak

Jauh dari ujung mata, ada bulan warna merah
Pancaran sinar kelembutan dan kehalusan

Mulai dari tatapan mata itu
Sampai bayang-bayang tubuh sang bulan

Hanya urutan huruf berbentuk Indah
Dan ungkapan kata berupa Cantik

Sayang ia hanya disana
Berbincang dengan sang bintang

Dan tergelak oleh suara malam
Tapi sejenak ia berhenti

Kemudian dibicarakannya lagi sang hitam
Sampai ia akan hilang

Terselubung oleh cerah
Dan sirna sebagai terkenang

Lalu tenggelam dalam rasa perpisahan
Kembali menuju ketiadaan

10122003
yanwar i m

Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, Personal | | No Comments »

Selamat Jalan Sayang – a farewell letter from BJ Habibie to Almarhumah Ainun

May27

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan tentang itu..

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya

dan kematian adalah sesuatu yang pasti

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu
Tetapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang

Sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tidak di tempatnya lagi, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang

Pada airmata yang jatuh kali ini, ak selipkan salam perpisahan panjang

Pada kesetiaan yang telah engkau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar engkau disini

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang

Tanpa mereka sadari, bahwa kau lah yang menjadikan aku kekasih yang baik

Mana mungkin aku setia padahal kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini
Selamat jalan, Kau dari-Nya dan akan kembali pada-Nya

Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada

Selamat jalan sayang..cahaya mataku..penyejuk jiwaku

Selamat jalan..calon bidadari Surgaku


by BJ. HABIBIE

Share This Post
posted under Feeds, Kisah Inspirasi | | No Comments »

Yang Tidak Bisa Dikatakan Ayah…

April9

*hanya ingin berbagi dari artikel yang saya dapat di forum sebelah… tapi lupa linknya :)

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya… Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”, Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…..
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
terusin baca selengkapnya disini…

Share This Post
posted under Feeds, InterestThing, Kisah Inspirasi, LifeStyle, Personal | | 7 Comments »

The Best … poems

February16

Beberapa hari yang lalu saya melihat acara di salah satu stasiun TV swasta yang membahas tentang museum pribadi milik Harry Darsono. Di museum tersebut banyak koleksi busana dan barang2 milik sang perancang mode Indonesia tersebut, salah satu benda koleksinya adalah sebuah puisi yang berjudul The Best…!.

Menurut saya puisi itu sederhana tapi penuh makna… berikut puisi tersebut:

THE BEST…
The best king is thinking
The best wealth is health
The best cure is Nature cure
The best culture is agriculture
The best ism is patriotism
The best city is simplicity
The best fare is welfare
The best ship is friendship
The best existence is co-existence
The best love is true love
The best day is today

by Harry Darsono


Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, Personal | | No Comments »

hari ini empat tahun yang lalu…

December18

Dari Surat Yang Tak Pernah Sampai

Surat ini tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada diriku sendiri. Aku ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi pucuk-pucuk pinus di pagi hari, dengan ikan-ikan yang ada dilautan, dengan malam, dengan detik jam, dengan kertas-kertas ini… tentang dia, tentang Putri.

Dia, yang tidak pernah aku mengerti. Dia, madu dan racun yang membuatku hidup dan membunuhku perlahan. Dia, yang aku sayang dan aku cinta. Dia yang tak pernah ada, yang aku reka dan aku cipta.

Setengah dariku menginginkan agar dia datang, membenciku hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padaku, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kami bertemu. Akan aku kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisan—dari mulai catatan sebaris sampai doa berbait-bait. Dan basahlah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa aku pernah tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Kalau saja saat itu ia tak pernah ada dan bahkan tak mencoba untuk pernah menoleh padaku. Hidupku, hidupnya, pasti akan lebih mudah. teruskan membaca disini

Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, Personal | | 1 Comment »

Syair Penuh Rahasia

June28

Pernah aku membuat janji untuk upload semua syair yang pernah ku tulis di Blogku ini, dan kupikir tidak ada salahnya untuk memulai dari sekarang. Bingung juga untuk memulai dari syair yang mana, sampai akhirnya kupilih yang ini:

Sebuah gubahan dari prosa yang ditulis oleh salah satu sastrawan angkatan 66 (kalo tidak salah…), silahkan dibaca:

PENUH RAHASIA

Jauh disana terhampar rumput hijau
Dibawah lingkungan pembatasan bumi dengan langit
Segaris hijau kebiruan pohon-pohonan
Langit yang kuning muda bersisik putih
Diantaranya terjalin warna sepuhan emas perada

Jauh sedikit dari sana
Tumpukan awan berbagai bentukyang terhalus puspa warna

Tak jauh darinya bintang sebuah kerlip-mengerlip seakan mata masih rungau
Terkadang-kadang benda kecil itu hilang disembunyikan awan putih

Hei, puspa warna berangsur menghilang lenyap di balik garis hijau tadi
Serta pancaran emas gagah perkasa itu diselimuti oleh awan tipis berbercak

Mengapa gelap ?
Mengapa berganti warna semacam ini, selaku sayu pandangan ?
Mengapa matahari kan sembunyi sendiri ?

Dingin …
Seluk membelai kenangan impian masa silam
Membangkit, mengorek perbendaharaan di kalbu

Mengapa mega kau tak bersolek lagi ?
Mengapa langit melengkung putih kebiruan menolak warna ?
Mengapa isi alam sunyi diam menyambut perubahan siang dan malam ?
Bukankah dibalik perubahan yang dingin mati disambut angin menyegar tubuh
Akh, bukankah Si Raja Siang yang gagah perkasa, yang memerintah selama siang itu
Diganti oleh Si Dewi Malam
Si Cantik manis akan memerintah semalaman dengan belaian sinar yang lembut itu
Dan di sisi sepuhan perak
Berkilau kerlipan permata terhampar di beledu biru
Bersukaria bermain caya

Bukankah,
Bukankah ribuan permata intan berlian
Tanding-bertanding menguji caya
Siapa terindah diantara berjuta ?
Memanglah
Tiap-tiap perubahan mengandung penuh rahasia

091999
yanwar i m

Share This Post
posted under Hobby, Kisah Inspirasi, Personal | | No Comments »

my recent poems

June21

Hanya ingin bercerita bahwa beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang memberikan apresiasinya pada puisiku yang dulu. Trus dia meminta penjelasan tentang puisi itu melalui status facebooknya. Yah, untuk menghormatinya maka aku menjawab dengan sebuah puisi lain, berikut jawaban tersebut…

Dari sudut manakah harus kujelaskan…
Setiap alasan akan rasa cinta itu
Jika setiap kiasan yang akan kuungkapkan
Membuatku terkenang dan haru.

Dari sisi mana harus kuceritakan
Setiap jawaban semua pertanyaan itu
Jika setiap kata yang akan kuucapkan
Membuatku lemah dan rindu.

Yang kutahu hanya…
Pada rasa itu aku merasakan dirinya
Pada kisah itu aku mengenang dirinya
Dan pada setiap puisi yang tercipta
Kugantungkan harapanku untuk bersamanya…

21062009
yanwar i m

hahaha, sedikit kikuk saat membuat puisi semacam ini lagi, karena masa-masa itu sudah lama berlalu… sudah lama sekali aku tidak menulis… apa lagi puisi semacam diatas… yah terima kasih lah untuk Shovey yang membuatku bersemangat lagi, terima kasih atas apresiasinya…

Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, Personal | | 1 Comment »

Curhat Buat Sahabat – Dee

April10

Beberapa waktu lalu aku lagi membaca bukunya Dewi Lestari (Dee) yang berjudul Rectoverso. Buku yang merupakan kumpulan 11 cerpen ini apik disajikan dengan format cerpen-lagu dalam setiap kisahnya. Menurutku ini merupakan sebuah karya hibrid yang luar biasa. Tagline untuk buku ini pun lumayan menarik “Dengarkan kisahnya, Baca musiknya.”

Salah satu kisah yang ada dalam buku itu berjudul “Curhat Buat Sahabat” yang menurut saya sebuah cerita yang mengagumkan. Aku suka bagaimana Dee menceritakan kisahnya dengan bahasa yang sederhana, ringan, mudah namun tidak ‘vulgar’, maksudnya, inti cerita diceritakan secara implisit, tidak terang2an. Konon cerita ini adalah cerita Dee dengan suami barunya. Simak saja cerita dan lagu berikut:

CURHAT BUAT SAHABAT – DEE

Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

“Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini.” Katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan mala mini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh tintamu ke-1, empat tahun yang lalu. “Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?” tanyaku, berusaha santai.

“Malam ini aku lahir baru.”

“Kamu… bertobat?”

“Bisa jadi itu istilahnya!” tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, “Aku… selesai.”

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

“Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!” Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

“Kenapa?” tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata Tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubliang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, dimana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian disitu. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berbanti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa saja, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

“Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin.” Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. “Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku Cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong…”

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

“Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku… dan segelas air putih.”

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

“Tapi… aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…” katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

“Orang… yang begitu tahu aku sakit… mau jam berapapun… langsung datang…” Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku bordering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Lalu ia minta dibawakan segelah air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu. “Keinginan itu… tidak ketinggian , kan?”

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putrid minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

”Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?” demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

”Aku akan diam,” jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

”Diam?”

”Ya. Diam! Diam ditempat. Tidak ada lagi usha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yankin diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, ”Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!”

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

”Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

”Ya.”

”Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?”

”Ya.”

Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

Share This Post
posted under InterestThing, Kisah Inspirasi | | 3 Comments »

syair pendek yang boleh dibaca

December11

Sebenarnya ini adalah syair pendek yang dulu pernah aku bikin, kalo sekarang udah jarang banget nulis2 yang gak penting kayak gini. Kemaren waktu aku buka2 buku lagi dan baca2 lagi, ada perasaan aneh yang gak bisa dijelasin.

Yah, intinya aku hanya ingin berbagi saja, silahkan dibaca:

silahkan baca terusannya disini

Share This Post
posted under Hobby, Kisah Inspirasi, Personal | | 8 Comments »
« Older Entries