Simpati vs Empati

Mungkin bagi kita yang tidak tahu akan sulit membedakan antara rasa simpati dan empati, atau mungkin sebagian dari kita akan menyamaratakan perasaan iba, kasihan atau sejenisnya ke dalam bentuk simpati. Tapi tahukah anda bahwa kedua rasa itu berbeda. Dalam posting ini saya akan sedikit membahas tentang kedua hal tersebut.

SIMPATI (Sympathy)
Secara etimologi kata simpati diturunkan dari kata dalam bahasa Yunani συμπάθεια (sympatheia) yang berasal dari kata σύν (syn) “bersama” and πάθος (pathos) “gairah, perasaan”, dalam hal ini “penderitaan” (dari πάσχωpascho, “terpengaruh oleh, menderita”).

(more…)

 

Mari Terus Mengeluhkan Indonesia

The Flag of Indonesia


Posting ini bukan sepenuhnya tulisan saya sendiri, esay ini saya baca dari portal berita terkemuka di Indonesia pada bagian Kolom yang ditulis oleh salah seorang wartawannya. Saya tertarik dengan artikel pertama kali dari judulnya, setelah membaca ternyata memang menarik bagaimana si penulis memandang segala pendapat warna negara Indonesia terhadap masalah yang dihadapi bangsa ini.
Tulisan aslinya bisa anda baca di http://bit.ly/e14Ixc. Silahkan dibaca, saya hanya ingin sharing saja.

Jakarta – Saya sering kali mendengar keluhan dari sejumlah kawan mengenai negara Indonesia. Di mata mereka, tidak ada yang benar terkait dengan negara Indonesia. Semuanya salah. Semuanya buruk. Namun, tidak satu pun dari yang berani atau berencana meninggalkan Indonesia.

Saat menonton televisi, membaca koran, mendengar radio, hal yang sama saya tangkap. Indonesia begitu buruk. Indonesia ibarat terkena penyakit ganas, yang sebentar lagi mati. Sekali lagi, tidak satu pun menyatakan diri akan meninggalkan Indonesia.

Biasanya, jika kita sudah tidak suka dengan sesuatu, ada dua pilihan yakni memperbaikinya atau meninggalkannya. Sungguh konyol tidak menyukai sesuatu, tapi terus mengeluhkannya sepanjang waktu. Tapi itulah pilihannya.

Yang mengatakan Indonesia buruk, bukan hanya mereka yang terkalahkan dari sistem liberalisme ekonomi yang sudah mengobrak-abrik Nusantara sejak pertengahan abad ke-19. Juga mereka yang sebenarnya makan dan minum dari uang negara Indonesia.

Misalnya, setelah rezim Soeharto jatuh, membuat ruang kekuasaan menjadi sangat terbuka. Orang kaya maupun orang miskin masuk menjadi bagian dari kekuasaan. Mereka ini sebelumnya para pengeluh dan menilai Indonesia sangat buruk.

Tidak ada perubahaan yang signifikan dilakukan mereka selama duduk dalam ruang kekuasaan. Menariknya mereka pun turut mengeluh, dan mengatakan Indonesia buruk. Mereka lebih berperan sebagai juru bicara ‘kemarahan’ rakyat. Mereka pun rela bermain drama saling memarahi, tanpa melakukan perubahaan dari apa yang dipersoalkan. Yang penting bagi mereka, mampu mengekspresikan kemarahan rakyat, terutama melalui ruang-ruang media massa.

silahkan teruskan baca disini..

 

Sajakku di Karimunjawa

Kemarin, cahaya mentari merah jambu, jatuh lembut di warna hijau dedaunan, perpaduan warna yang jarang kunikmati hingga saat ini.

Memang sore itu sore yang cerah di Karimunjawa. Sebuah pulau di tengah Laut Jawa yang tak kalah dengan Kepulauan Maladewa.

Angin paginya menyegarkan dada, dan cahaya suryanya menghangatkan raga, sedang kuning emas senjanya memanjakan mata.

Andai ia jadi kesini, akan kuceritakan tentang nyanyian ombak yang mengalun diatas pasir, akan kubagikan suasana senja yang akan membuatnya menutup mata sementara, menikmati hari ini dari lubuk hati, tak perlu melihat karena setiap indra turut merasakan, tak perlu mendenganr karena seluruh jiwa cukup tergetarkan, dan segenap rasa cukup menikmati setiap detik yang terbuang.

Yah.. itu jika ia jadi kesini, banyak yang ingin aku berikan, banyak yang ingin aku isyaratkan.. hah, memang berkhayal itu melelahkan…

15 Juli 2009
saat mentari mulai membentuk bayang

Yanwar I.M.

 

bulan merah – poems

Kebetulan beberapa waktu lalu saya menemukan satu file puisi yang sepertinya terpisah dengan kumpulan puisi yang saya punya. Hanya ingin berbagi saja, siapa tahu ada yang suka, tapi maaf jika memang tidak bagus, soalnya saya bukan pujangga. Terima kasih untuk apresiasinya.

TO: someone in UGM

Bulan Merah

Dua, tiga, bahkan empat kata pun tak cukup
Untuk isyaratkan rasa, saat mata ini mulai memihak

Jauh dari ujung mata, ada bulan warna merah
Pancaran sinar kelembutan dan kehalusan

Mulai dari tatapan mata itu
Sampai bayang-bayang tubuh sang bulan

Hanya urutan huruf berbentuk Indah
Dan ungkapan kata berupa Cantik

Sayang ia hanya disana
Berbincang dengan sang bintang

Dan tergelak oleh suara malam
Tapi sejenak ia berhenti

Kemudian dibicarakannya lagi sang hitam
Sampai ia akan hilang

Terselubung oleh cerah
Dan sirna sebagai terkenang

Lalu tenggelam dalam rasa perpisahan
Kembali menuju ketiadaan

10122003
yanwar i m

 

Selamat Jalan Sayang – a farewell letter from BJ Habibie to Almarhumah Ainun

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan tentang itu..

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya

dan kematian adalah sesuatu yang pasti

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu
Tetapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang

Sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tidak di tempatnya lagi, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang

Pada airmata yang jatuh kali ini, ak selipkan salam perpisahan panjang

Pada kesetiaan yang telah engkau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar engkau disini

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang

Tanpa mereka sadari, bahwa kau lah yang menjadikan aku kekasih yang baik

Mana mungkin aku setia padahal kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini
Selamat jalan, Kau dari-Nya dan akan kembali pada-Nya

Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada

Selamat jalan sayang..cahaya mataku..penyejuk jiwaku

Selamat jalan..calon bidadari Surgaku


by BJ. HABIBIE

 

Yang Tidak Bisa Dikatakan Ayah…

*hanya ingin berbagi dari artikel yang saya dapat di forum sebelah… tapi lupa linknya 🙂

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya… Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya”, Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…..
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
terusin baca selengkapnya disini…

 

The Best … poems

Beberapa hari yang lalu saya melihat acara di salah satu stasiun TV swasta yang membahas tentang museum pribadi milik Harry Darsono. Di museum tersebut banyak koleksi busana dan barang2 milik sang perancang mode Indonesia tersebut, salah satu benda koleksinya adalah sebuah puisi yang berjudul The Best…!.

Menurut saya puisi itu sederhana tapi penuh makna… berikut puisi tersebut:

THE BEST…
The best king is thinking
The best wealth is health
The best cure is Nature cure
The best culture is agriculture
The best ism is patriotism
The best city is simplicity
The best fare is welfare
The best ship is friendship
The best existence is co-existence
The best love is true love
The best day is today

by Harry Darsono


 

hari ini empat tahun yang lalu…

Dari Surat Yang Tak Pernah Sampai

Surat ini tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada diriku sendiri. Aku ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi pucuk-pucuk pinus di pagi hari, dengan ikan-ikan yang ada dilautan, dengan malam, dengan detik jam, dengan kertas-kertas ini… tentang dia, tentang Putri.

Dia, yang tidak pernah aku mengerti. Dia, madu dan racun yang membuatku hidup dan membunuhku perlahan. Dia, yang aku sayang dan aku cinta. Dia yang tak pernah ada, yang aku reka dan aku cipta.

Setengah dariku menginginkan agar dia datang, membenciku hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padaku, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kami bertemu. Akan aku kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisan—dari mulai catatan sebaris sampai doa berbait-bait. Dan basahlah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa aku pernah tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Kalau saja saat itu ia tak pernah ada dan bahkan tak mencoba untuk pernah menoleh padaku. Hidupku, hidupnya, pasti akan lebih mudah. teruskan membaca disini

 

Syair Penuh Rahasia

Pernah aku membuat janji untuk upload semua syair yang pernah ku tulis di Blogku ini, dan kupikir tidak ada salahnya untuk memulai dari sekarang. Bingung juga untuk memulai dari syair yang mana, sampai akhirnya kupilih yang ini:

Sebuah gubahan dari prosa yang ditulis oleh salah satu sastrawan angkatan 66 (kalo tidak salah…), silahkan dibaca:

PENUH RAHASIA

Jauh disana terhampar rumput hijau
Dibawah lingkungan pembatasan bumi dengan langit
Segaris hijau kebiruan pohon-pohonan
Langit yang kuning muda bersisik putih
Diantaranya terjalin warna sepuhan emas perada

Jauh sedikit dari sana
Tumpukan awan berbagai bentukyang terhalus puspa warna

Tak jauh darinya bintang sebuah kerlip-mengerlip seakan mata masih rungau
Terkadang-kadang benda kecil itu hilang disembunyikan awan putih

Hei, puspa warna berangsur menghilang lenyap di balik garis hijau tadi
Serta pancaran emas gagah perkasa itu diselimuti oleh awan tipis berbercak

Mengapa gelap ?
Mengapa berganti warna semacam ini, selaku sayu pandangan ?
Mengapa matahari kan sembunyi sendiri ?

Dingin …
Seluk membelai kenangan impian masa silam
Membangkit, mengorek perbendaharaan di kalbu

Mengapa mega kau tak bersolek lagi ?
Mengapa langit melengkung putih kebiruan menolak warna ?
Mengapa isi alam sunyi diam menyambut perubahan siang dan malam ?
Bukankah dibalik perubahan yang dingin mati disambut angin menyegar tubuh
Akh, bukankah Si Raja Siang yang gagah perkasa, yang memerintah selama siang itu
Diganti oleh Si Dewi Malam
Si Cantik manis akan memerintah semalaman dengan belaian sinar yang lembut itu
Dan di sisi sepuhan perak
Berkilau kerlipan permata terhampar di beledu biru
Bersukaria bermain caya

Bukankah,
Bukankah ribuan permata intan berlian
Tanding-bertanding menguji caya
Siapa terindah diantara berjuta ?
Memanglah
Tiap-tiap perubahan mengandung penuh rahasia

091999
yanwar i m

 

my recent poems

Hanya ingin bercerita bahwa beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang memberikan apresiasinya pada puisiku yang dulu. Trus dia meminta penjelasan tentang puisi itu melalui status facebooknya. Yah, untuk menghormatinya maka aku menjawab dengan sebuah puisi lain, berikut jawaban tersebut…

Dari sudut manakah harus kujelaskan…
Setiap alasan akan rasa cinta itu
Jika setiap kiasan yang akan kuungkapkan
Membuatku terkenang dan haru.

Dari sisi mana harus kuceritakan
Setiap jawaban semua pertanyaan itu
Jika setiap kata yang akan kuucapkan
Membuatku lemah dan rindu.

Yang kutahu hanya…
Pada rasa itu aku merasakan dirinya
Pada kisah itu aku mengenang dirinya
Dan pada setiap puisi yang tercipta
Kugantungkan harapanku untuk bersamanya…

21062009
yanwar i m

hahaha, sedikit kikuk saat membuat puisi semacam ini lagi, karena masa-masa itu sudah lama berlalu… sudah lama sekali aku tidak menulis… apa lagi puisi semacam diatas… yah terima kasih lah untuk Shovey yang membuatku bersemangat lagi, terima kasih atas apresiasinya…

 

Search

Enter Search KeyWord:     

Archives