Curhat Buat Sahabat – Dee

Beberapa waktu lalu aku lagi membaca bukunya Dewi Lestari (Dee) yang berjudul Rectoverso. Buku yang merupakan kumpulan 11 cerpen ini apik disajikan dengan format cerpen-lagu dalam setiap kisahnya. Menurutku ini merupakan sebuah karya hibrid yang luar biasa. Tagline untuk buku ini pun lumayan menarik “Dengarkan kisahnya, Baca musiknya.”

Salah satu kisah yang ada dalam buku itu berjudul “Curhat Buat Sahabat” yang menurut saya sebuah cerita yang mengagumkan. Aku suka bagaimana Dee menceritakan kisahnya dengan bahasa yang sederhana, ringan, mudah namun tidak ‘vulgar’, maksudnya, inti cerita diceritakan secara implisit, tidak terang2an. Konon cerita ini adalah cerita Dee dengan suami barunya. Simak saja cerita dan lagu berikut:

CURHAT BUAT SAHABAT – DEE

Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

“Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini.” Katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan mala mini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh tintamu ke-1, empat tahun yang lalu. “Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?” tanyaku, berusaha santai.

“Malam ini aku lahir baru.”

“Kamu… bertobat?”

“Bisa jadi itu istilahnya!” tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, “Aku… selesai.”

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

“Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!” Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

“Kenapa?” tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata Tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubliang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, dimana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian disitu. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berbanti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa saja, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

“Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin.” Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. “Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku Cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong…”

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

“Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku… dan segelas air putih.”

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

“Tapi… aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…” katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

“Orang… yang begitu tahu aku sakit… mau jam berapapun… langsung datang…” Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku bordering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Lalu ia minta dibawakan segelah air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu. “Keinginan itu… tidak ketinggian , kan?”

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putrid minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

”Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?” demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

”Aku akan diam,” jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

”Diam?”

”Ya. Diam! Diam ditempat. Tidak ada lagi usha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yankin diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, ”Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!”

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

”Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

”Ya.”

”Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?”

”Ya.”

Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

 

Search

Enter Search KeyWord:     

Archives