“merintang warna tradisi lama, menoreh karya kaya makna, cetusan sukma latar budaya, harapan hidup jadi bermakna

wastra budaya adiluhung, penuh kearifan cipta rasa karsa, dilambari niat menembah manekung, identitas budaya keberadaan bangsa”

Batik berasal dari kata “ambatik” (menulis titik) yang berarti membuat titik-titik hingga menjadi sebuah motif utuh. Banyak yang beranggapan bahwa batik berasal dari Indonesia, namun beberapa sumber mengatakan bahwa karya seperti batik tidak saja berasal dari Indonesia. Mungkin lebih bijaknya dikatakan bahwa karya seperti batik merupakan bagian dari peradaban dunia masa lalu. Bagaimanapun asal muasalnya, yang jelas batik yang eksis hingga saat ini adalah batik Indonesia.

Belum diketahui kapan pastinya batik itu mulai ada, tapi motif-motif batik yang ada hingga saat ini, dapat dilihat di beberapa artefak budaya berupa candi-candi seperti motif dasar lereng pada patung emas Syiwa abad 9 di Gemuruh Wonosobo; dasar motif ceplok pada pakaian patung Ganesha di Candi Banon dekat Borobudur (abad 9); motif liris pada Manjusri Ngemplak Semongan Semarang (awal abad 10). Sangat dimengerti karena batik juga merupakan salah satu karya seni yang melukiskan budaya sehingga berkaitan dengan karya budaya yang lainnya. Sebagai salah satu karya budaya bangsa, atau disebut barang budaya, batik pun berkembang sesuai jamannya.

Motif batik terekam secara pasti sejak jaman Mataram Islam yang berasal dari kalangan kraton, seperti parang rusak, semen rama, dll yang kemudian dikenal sebagai motif batik tradisional. Dari kraton inilah motif batik “diuri-uri” bahkan sebagai busana yang diatur penggunaannya, sehingga timbul adanya “motif larangan” yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan strata tertentu.

Perkembangan motif batik Kraton menyebar bersama dengan berkembangnya hubungan dengan luar Kraton melalui perkawinan, niaga dan lain sebagainya. Sehingga motif batik kraton pun berkembang di luar Kraton Mataram. Dengan demikian muncul pula motif-motif batik pengaruh Kraton yang tersebar di Nusantara terutama di pulau jawa.

Keindahan batik Kraton yang dikala itu dikenakan sebagai “jarik” (berasal dari kata ojo sok serik – jangan suka sirik/iri) menarik masyarakat di luar kraton untuk bisa mengenakannya. Agar bisa mengenakan tanpa melanggar aturan yang telah ditetapkan, terciptalah motif-motif yang indah sebagai modifikasi motif batik kraton yang disebut motif batik Sudagaran yang tidak kalah indah dan halus dalam pengerjaannya. Dalam mengembangkan motif pada produk batiknya para saudagar/pengusaha batik inipun berinovasi sehingga mempunyai ciri khas, yang sekaligus memperkaya keanekaragaman motif batik Indonesia.

Perkembangan batik tidak hanya pada motifnya tetapi juga cara atau teknik pengerjaannya. Disamping itu juga pada bahan bakunya yang tidak hanya pada kain katun (mori), serta penggunaannya atau fungsinya tidak hanya sebagai jarik atau dodot.

Dari cara pengerjaan rintang warna, muncul canting cap dari yang semula canting tulis. Sehingga dikenal adanya batik tulis, batik cap dan batik kombinasi (tulis dengan cap). Juga pada proses ngengreng (mempola). Sehingga yang disebut batik salah satunya memenuhi syarat dengan proses perintangan warnyanya dengan lilin (malam).

Berkembangnya jaman menyebabkan batik pun berkembang, baik sebagai barang seni/barang budaya maupun sebagai komoditas ekonomi. Diharapkan batik main berkembang, namun jangan sampai perkembangannya tercerabut dari akarnya, dalam arti kearifan yang terkandung dalam simbolisasi motifnya, pada pengerjaanya yang ramah lingkungan tidak diabaikan atau ditinggalkan begitu saja. Untuk itula pengenalan, sosialisasi, pengajaran tentang batik secara utuh tetap diperlukan dan dilestarikan sebagai salah satu identitas, jati diri bangsa yang diharapkan bisa memperkokoh rasa dan wawasan kebangsaan.

sumber: Pameran Batik Nusantara – Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad.