YANWORKS.WEB.ID/blog

Sesuatu yang ingin ditulis dan dibaca sebagaimana mestinya.

hari ini empat tahun yang lalu…

December18

Dari Surat Yang Tak Pernah Sampai

Surat ini tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada diriku sendiri. Aku ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi pucuk-pucuk pinus di pagi hari, dengan ikan-ikan yang ada dilautan, dengan malam, dengan detik jam, dengan kertas-kertas ini… tentang dia, tentang Putri.

Dia, yang tidak pernah aku mengerti. Dia, madu dan racun yang membuatku hidup dan membunuhku perlahan. Dia, yang aku sayang dan aku cinta. Dia yang tak pernah ada, yang aku reka dan aku cipta.

Setengah dariku menginginkan agar dia datang, membenciku hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padaku, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kami bertemu. Akan aku kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisan—dari mulai catatan sebaris sampai doa berbait-bait. Dan basahlah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa aku pernah tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Kalau saja saat itu ia tak pernah ada dan bahkan tak mencoba untuk pernah menoleh padaku. Hidupku, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, setengah dari aku menginginkan agar dia datang, menjemputku, mengamini kami berdua, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. Kemudian mendamparkan diri kami disebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa setengah dariku percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala… dan itulah tujuan kami.

Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan alam mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamanya yang diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamaku, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa aku rela membatu untuk itu.

Aku takut.

Aku takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanku untuk mengakui aku mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupku, tapi aku cemas. Kata ’sejarah’ mulai menggangtung hati-hati di atas sana. Sejarah kami. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup setiap manusia, termasuk aku, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh, begitu pula cinta.

Skenario perjalanan kami mengharuskanku untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang dikepalaku sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kami seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kami bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Aku sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Aku pertaruhkan segalanya demi apa yang aku rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggi untukku.

Lama baru aku menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual (tidak dari satu pihak, tapi keduanya).

Lama bagi aku untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang pernah aku alami bersamanya?

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdangangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta ini butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta bukanlah sesuatu yang ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanku—entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kami bergandengan… karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah aku dan dia. Iteraksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

Aku ingin berhenti memencet tombol tunda. Aku ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan aku tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.

Hingga akhirnya…

Di meja ini, aku dikelilingi tulisan-tulisan tangan yang tersisa (aku baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus aku yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma akulah yang tersiksa?).

Tidak heran kalau aku menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupaku, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat dan wangi aroma tubuh yang aku hafal betul baunya.

Dan aku hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan kupu-kupu yang putus asa, dengan malam yang diam digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya, dengan kertas-kertas putih yang pasrah di kotori dengan arang dan tinta.

Sampai pada halaman kedua suratku, aku yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata yang mampu meyakinkanku bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan, bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatku berubah pikiran, tidak ada kata ’tidak’ yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi. Aku pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah aku alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput aku yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari diriku yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kami bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedasyat itu. Diriku yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, waktu semakin larut, tenagaku pun sudah menyurut, maka aku akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit diriku itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan aku akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah aku semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan… yang menunjukkan jalan pulang bagi hatinya untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang telah merasakan apa yang ku rasakan. Yang damba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padanya. Surat-surat yang tak pernah sampai.

by Dewi Lestari

Share This Post
posted under Kisah Inspirasi, Personal |
One Comment to

“hari ini empat tahun yang lalu…”

  1. On December 19th, 2009 at 6:27 mariaNo Gravatar Says:

    maz,
    slam kenal..

    aq newbie soal blog nie..
    dan cinta mati sama layout mu..

    minta link” desain layout yg bagus” macem” ni dunk..

    tlg dblz ya…

    tinkyu mas

    ReplyReply

Email will not be published

Website example

Your Comment:

This site is using OpenAvatar based on