YANWORKS.WEB.ID/blog

Sesuatu yang ingin ditulis dan dibaca sebagaimana mestinya.

a journey of I am in a happy sunday

May28

Pada posting ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya melalui hari minggu ( 23/05) yang cukup melelahkan tapi menyenangkan, salah satunya adalah menghadiri Plesiran Ngisor Ringin, sebuah acara gathering para GoodReaders Jogja, FYI: Goodreaders adalah sebutan untuk para anggota goodreads.com yang merupakan sebuah website jejaring pembaca buku di seluruh dunia.

Ok, mulai dari mana ini??? Beberapa orang membuat LPM atau Lapanta menurut versi mereka sendiri, dan saya bertanya2 apakah itu Lapanta? Beberapa waktu kemudian saya baru tahu kalo lapanta ternyata kependekan dari Laporan Pandangan Mata, istilah yang dulu populer digunakan oleh reporter radio saat melaporkan kejadian di lapangan. Tulisan ini semacam laporan atau jurnal kegiatan untuk acara kopdar yang kemaren sudah dilakukan. Apakah tulisan/posting ini akan jadi seperti itu? Jawabannya Tidak.

Tulisan ini tidak akan serunut dan sedetail Lapanta seorang Pra yang mengaku bukan moderator, atau journal milik Nat dengan sentuhan cerita mengharukan di akhirnya, atau LPM resmi dari Ika yang ditunjuk langsung oleh seorang Dokter Iyut beserta asistennya Petra. Tidak, ini hanya akan jadi kisah perjalanan seorang Saya yang berada pada waktu yang tepat bersama mereka. Mohon maaf jika sedikit personal, namanya juga blog pribadi…

Hari itu bukan seperti hari Minggu biasa yang selalu saya lalui akhir-akhir ini, saya sudah menyiapkan berbagai agenda untuk melalui satu hari minggu itu dengan menyenangkan.

Selalu saya mulai pagi dengan berada di beranda rumah dan memandang ke arah utara, memang Gunung Merapi itu indah di pagi hari, terutama saat setengah awan menutup pucuknya dan kabut mulai berbayang terkena cahaya kuning emas sang surya. Setelah bergegas mandi, saya tak lupa membawa kamera dan beberapa buku yang akan menemani saya selama satu hari ini ditambah perbekalan cukup air minum dan berbagai makanan ringan untuk pengganjal perut dalam keadaan darurat. Meninggalkan rumah, pemberhentian pertama saya pada pukul 08.00 WIB adalah sebuah TPS di ujung kampung tempat terlaksananya proses demokrasi di daerah kami, ya, hari itu tepat pemilukada dan saya berpartisipasi didalamnya, sebagai warga negara yang baik. Yang membuat saya kaget dalam proses ini adalah mekanisme pemilihannya kembali menggunakan metode lama, dicoblos bukan dicontreng seperti pilpres yang terakhir diadakan, yah mungkin hanya ditempat saya saja yang seperti itu, atau memang ditempat lain sama??? Bukan sebuah pertanyaan yang wajib dijawab.

Tak butuh waktu yang lama untuk saya memberi suara, kemudian saya langsung meluncur ke arah Bantul di dekat terminal Giwangan tempat saya menunggu beberapa teman fotografer dan seorang model untuk melakukan sesi pemotretan kami kali ini, setelah semua berkumpul kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan, ke sebuah daerah bernama Imogiri, ‘venue’ sesi hunting kali ini merupakan sebuah hutan pinus di sebelah kompleks makam raja-raja mataram yang rindang dan sejuk.

Dengan bermodal kamera lawas dan skill yang pas-pasan saya cukup percaya diri bersandingan dengan kawan-kawan fotografer yang lebih senior, meski saya akui hasil yang saya dapatkan tak sebagus yang mereka punya, tapi saya cukup merasa puas. Siang itu matahari sangat terik walau awalnya sempat turun hujan, namun untungnya sesi berjalan dengan lancar berkat model yang mau diajak berpanas-panasan.

Setelah foto keluarga, istilah yang digunakan untuk foto bersama-sama setelah sesi pemotretan, kami meluncur ke sebuah rumah makan dengan menu andalannya yaitu sate klathak, sebuah sate kambing unik yang tak memerlukan banyak bumbu dan sebatang jeruji sepeda sebagai tusuknya. Awalnya saya pikir rasanya tak terlalu enak karena yang saya tahu bumbunya hanya garam dan bawang saja, ternyata saya salah duga, rasa yang dihasilkan justru sederhana dan sangat nikmat, sebuah perpaduan antara rasa gurih dan empuk membuat lidah bergoyang menikmati kelezatannya. Meskipun satu porsi hanya dua tusuk saja, namun saya merasa puas dan berkeinginan untuk mencoba kembali lain kali.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua, sudah saatnya saya meluncur ke Alun-alun Selatan, kali ini saya sudah membuat janji untuk hadir di acara “Plesiran Ngisor Ringin” dengan beberapa teman-teman anggota GoodReaders Jogja. Meskipun tajuk acara ini adalah plesiran ngisor ringin, tapi kami tak benar-benar berada dibawah pohon beringin, karena cuaca saat itu sedikit mendung maka acara dipindah ke tempat yang lebih teduh, di Sasana Hinggil, dan mau tidak mau acara itu diganti judul dengan “Plesiran Nonton Ringin”. Yang jelas masih sama-sama plesiran dan ada unsur ‘Ringin’nya, toh intinya bukan masalah tempatnya tapi tujuan dari acara itu yang ingin mempertemukan dan menjalin silaturahmi antara pembaca buku di Jogja, utamanya member goodreads.com.

Sejujurnya kegemaran membaca saya sudah sedikit berkurang dibandingkan beberapa waktu yang lalu, mungkin karena sekarang saya lebih sering nonton film dibanding membaca buku, atau mungkin saja karena ‘penyakit’ saya yang selalu merasa ngantuk setiap kali membaca buku, terutama buku-buku yang serius, membuat saya tidak memiliki banyak kesempatan untuk menyelesaikan buku yang sedang saya baca. Yah paling tidak saya merasa bangga pernah membaca seluruh novel Dan Brown, menyelesaikan Trilogy Jendela-Pintu-Atap karya Fira Basuki, seri Supernova karya Dewi ‘dee’ Lestari, seri detektif Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, dan sebuah kitab suci bernama Al Qur’an meski hanya sempat khatam sekali saja.

Saya menjadi anggota goodreads.com ini belum juga terlalu lama, dan memang ini adalah event pertama saya bersama teman-teman sesama goodreaders di Jogja, saya sangat semangat dan antusias, biasalah selalu menyenangkan ketemu dengan orang-orang yang baru. Setelah bersama mereka, bercerita tentang buku ini dan itu, bagaimana kisah ini dan pengarang itu, rasanya saya pengen membaca beberapa buku yang dulu hanya sempat saya beli tapi belum saya baca sampai sekarang.

Acara itu dimulai tepat saat saya baru tiba di Sasono Hinggil, meski awalnya saya sudah melihat mereka berkumpul dari kejauhan, tapi saya tidak berani langsung menghampiri, takut salah, saya lebih memilih untuk menelepon salah satu ‘ketua suku’ untuk memastikan lokasi dan orang-orang yang berkumpul adalah acara yang akan saya hadiri. Setelah mendapat kepastian, tanpa malu saya langsung bergabung. OK, saya belum kenal semua orang yang saya temui disana bahkan mungkin memang ini adalah pertemuan kami yang pertama, dan untung saja acara pertama adalah acara perkenalan, jadi saya tidak terlalu canggung untuk mengikuti alur acara.

Perkenalan yang dipandu oleh mbak Niken (ken terate) itu cukup unik karena orang yang memperkenalkan diri harus menyebutkan setiap nama yang sudah diperkenalkan sebelumnya, malang bagi yang paling terakhir harus menyebutkan setiap nama orang yang ada di tempat itu, tapi ini cukup ampuh untuk membuat kami tahu nama setiap orang yang ada. Setelah itu perkenalan dilanjutkan dengan cara yang lebih unik lagi, masing-masing dibagi berpasangan dan diminta untuk saling wawancara, meski format wawancaranya bebas, tapi terdapat beberapa pertanyaan wajib yang harus ditanyakan, yaitu: Buku apa yang saat itu sedang dibaca? Buku favorit ketika kecil? dan buku apa yang pernah membuat kecewa?

Saat itu saya berpasangan dengan salah satu ketua suku acara tersebut, Dokter Iyut, saya juga tahu kalo mbak Iyut adalah dokter setelah wawancara itu berlangsung, dan saya mendapat bonus berkenalan dengan si kecil Petra. Setelah wawancara itu selesai, kemudian semua berkumpul kembali, dan sesi kedua perkenalan dimulai, sedikit berbeda dengan sesi pertama, sesi perkenalan ini bukan memperkenalkan diri sendiri, tapi memperkenalkan pasangan yang tadi telah diwawancarai, dengan begitu kita benar-benar tahu siapa orang yang jadi pasangan kita tadi. Beberapa orang memperkenalkan pasangannya bak wartawan, detail, runut dan lengkap seperti yang dicatatnya di kertas saat wawancara.

Dari perkenalan sesi kedua ini kami jadi lebih banyak tahu tentang masing-masing personal terutama yang menyangkut dengan buku apa yang pernah ada dikehidupan mereka, untuk kategori buku favorit waktu kecil, cerita seperti donal bebek, lima sekawan, dan cerita dalam majalah Bobo adalah jawaban yang paling banyak muncul.

Selesai perkenalan, acara dilanjutkan dengan menggelar alas duduk dan makanan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, saya tidak mengeluarkan apa-apa karena bekal yang saya bawa dari rumah sudah habis saat acara pemotretan sebelumnya, jadi saya hanya berharap mendapat jatah dari makanan yang dibawa teman-teman yang lain. Ternyata tak sedikit dari mereka yang membawa bekal makanan untuk dibagi, bahkan sepertinya terlalu banyak untuk dihabiskan oleh semua orang kala itu, entah karena malu atau memang terlalu banyak, makanan-makanan tersebut tidak habis hingga acara selesai, jadinya kami pulang membawa sedikit ‘oleh-oleh’ dari acara tersebut.

Acara itu berlangsung kurang lebih 2 jam, banyak yang dibicarakan terutama tentang buku-buku yang pernah dibaca dan ingin dibaca. Tapi yang menarik dari rangkaian acara itu adalah tentang book swap dan doorprize yang dibagikan ke masing-masing peserta plesiran. Book swap adalah ajang untuk tukar-menukar buku untuk dibaca antara anggota goodreads, mekanismenya adalah masing-masing peserta membawa buku untuk ditukar dan kemudian diletakkan di lantai untuk di tukar dengan yang lain, caranya adalah dengan saling berebut setelah diberi tanda untuk mulai, siapa cepat dia dapat. Saya sendiri hanya mengamati dari dekat, siapa tahu kalo lain kali saya ikut, paling tidak saya sudah punya strategi untuk mendapatkan buku yang terbaik. Yah memang saat itu saya tidak bawa buku untuk di swap, saya hanya membawa dua buah buku komik untuk disumbangkan di sebuah perpustakaan di Bantul, dua komik itu karya salah satu pengarang manga favorit saya yaitu Adachi Mitsuru.

Doorprize dibagikan setelah acara bookswap selesai, kebetulan saat itu jumlah hadiah yang tersedia sama dengan jumlah peserta yang ada, jadi masing-masing peserta mendapatkan satu hadiah. Karena sistem pengambilan doorprizenya dengan cara diundi dan yang mendapat angka yang lebih kecil mengambil terlebih dahulu sesuai dengan urutan, saya yang kala itu mendapat no urutan 13 harus merelakan buku Da Vinci Code karangan Dan Brown yang sudah sejak awal saya incar. Saat sampai giliran saya, hanya ada beberapa hadiah yang tertinggal, dan pilihan saya jatuh pada satu buku dengan judul ‘Rumah Kecil di Padang Rumput’ yang diterjemahkan dari buku asli berjudul ‘Little House on the Prairie’ karya Laura Ingalls Wilder. Pilihan saya pada buku itu sebenarnya karena saya merasa deja-vu dengan buku ini walau jujur saya belum pernah sekalipun membaca ataupun melihatnya.

Dan begitulah acara itu berlangsung dengan menyenangkan, sebelum acara ditutup dan dibubarkan, terlebih dahulu diadakan semacam game untuk kekompakan antara peserta dan satu hal yang wajib dilakukan adalah foto keluarga, sebuah bukti bahwa kami semua berkumpul bersama sebagai satu komunitas dan kalo boleh dikatakan sebagai satu keluarga pembaca buku. Semua pulang membawa kesan masing-masing di hati mereka.

Terima kasih untuk Uci, Iyut, Kinu, Putri, Putra, Ayuk, Ken, San-san, Wulan, Desi, Indri, Renny, Lutfi, Ika, Nat dan Nofita. Tak lupa juga terima kasih untuk saudara Pra yang dengan penuh perjuangan telah menempuh 7 kabupaten/kota dalam 8 jam, sungguh perjuangan anda luar biasa kisanak. Terima kasih juga untuk siapapun yang berada di belakang acara plesiran ini, saya tunggu lagi acara kopdar goodreads selanjutnya.

Without wax,
YanZ

Share This Post
posted under LifeStyle, Personal |

Email will not be published

Website example

Your Comment:

This site is using OpenAvatar based on