ayat-ayat cinta the movie

Berawal dari ketertarikan pada sebuah novel karangan Habiburrahman El Shirazy dan rasa kaget mengetahui bahwa novel tersebut akan difilmkan. Aku tidak tahu harus merasa senang atau was was. Senang karena Novel sebagus ini akan diangkat menjadi sebuah cerita film atau was was bahwa aku mungkin akan kembali kecewa dengan model “film yang diangkat dari novel/buku”.

 

Sampul Versi Novel VS Poster Versi Film:

Di beberapa blog sudah ada posting dengan judul yang sama, membahas tentang tokoh2, menyinggung sedikit cerita, dan memberikan komentar tentang realisasi pengangkatan novel ini menjadi film.

Komentarku? Terus terang aku kaget mendengar kabar ini dari teman beberapa minggu yang lalu (walau aku yakin suatu saat novel ini memang akan difilmkan) tapi juga harus menyiapkan diri untuk kecewa dengan hasil yang nanti akan diputar tanggal 19 Desember di bioskop diseluruh dunia dan juga di mesir sana (kalo yang dimesir gak tau bener atau gak). Kenapa aku siap2 kecewa?

Pengangkatan novel/buku menjadi sebuah film seringkali tidak berhasil memuaskan penonton atau pembaca buku yang diangkat menjadi film tersebut. Bahkan untuk industri sekelas hollywood pun kadang mendapat caci maki dari orang2 macam saya ini (yang kalo disuruh buat creditnya aja belum tentu bisa). Banyak halangan yang menyebabkan hal tersebut.

Dimana di sebuah novel/buku pembaca disajikan paparan tokoh, tempat, dan jalan cerita dengan bahasa si pengarang yang kemudian diterjemahkan oleh pembaca dengan imaginasinya. penterjemahan ini kadang berbeda-beda dari tiap individu dipengaruhi dari tingkat intelegensia maupun lingkungan si pembaca. tidak jarang yang sampai menghayati hingga seolah-olah menjalaninya sendiri (bahkan juga bermimpi menjalaninya).

Sedangkan pada sebuah film kita disajikan hasil terjemahan individu tertentu (penulis skenario/sutradara) dan terpaksa menerima dan mengikuti pandangan yang ada. hal ini tentunya tidak bermasalah bagi orang-orang yang belum pernah membaca buku/novel aslinya, tapi bagi mereka yang sudah menghayati cerita dengan membaca buku atau novelnya terlebih dahulu tentunya akan merasa kecewa dengan hasil yang nantinya mungkin akan berbeda dari apa yang mereka terjemahkan tersebut.

Seperti saya melihat film Da Vinci Code yang betul-betul kecewa dengan hasil yang saya lihat dari filmnya. saya yakin itu sudah melewati beberapa filter tertentu (tahu sendiri lah ini masalah sensitif religius). Kekecewaan yang sama mungkin akan aku dan kalian alami dengan adanya film ayat-ayat cinta ini.Yang dari beberapa sisi memiliki budget yang terbatas untuk benar-benar mengikuti jalan cerita novel.

Saya tidak tahu apakah shooting dilakukan di indonesia atau di mesir sana, kalopun ada di indonesia, dimana yang bisa cocok dengan deskipsi geografis mesir yang notabene kering dan panas (kalo indonesia cuma panas aja –polusi). Dan tentunya dengan deskripsi fisik lain seperti metro (kereta subway) sesuai deskripsi novel, tempat tinggal fahri dan aisyah di kawasan elit mesir (ditengah sungai apa gitu -lupa). Tapi jika latarnya benar-benar mesir seperti yang diceritakan di novel, setidaknya akan menghapus satu kekecewaan para penonton.

Pemeran? Fahri, Aisyah dan beberapa tokoh lain mungkin bagi sebagian orang menjadi sosok yang ‘sempurna’ dan sepertinya tidak mungkin ada. Kemudian tokoh-tokoh ini diperankan oleh orang-orang yang mungkin telah tercipta image dikalangan masyarakat dengan pribadinya dari film-film sebelumnya atau kesehariannya melalui infotainment. Seperti fahri yang nantinya akan diperankan oleh Fedi Nuril yang mana dari film sebelumnya adalah seorang pemain band cadas di film “Garasi”.

Sebenarnya aku sendiri tidak begitu mempermasalahkan tentang hal ini, asal aktris/pemeran itu dapat membawakan peran dengan baik dan sesuai dengan tokoh dalam novel. Untung saja tokoh aisyah akan diperankan oleh artis dari mesir sana. Dimanapun atau oleh siapapun juga saya merasa sulit untuk dapat menerima penggambaran tokoh aisyah pada orang indonesia (atau saya saja yang kurang tahu).

Jalan cerita? Biasanya film adaptasi atau film yang diangkat dari sebuah novel akan menghilangkan adegan/cerita2 yang tidak esensi, hal ini biasanya untuk mengurangi durasi maupun untuk menekan biaya dan beberapa faktor lain. yang jelas, asal adegan2 yang berkesan pada pembaca tidak dihilangkan dari film paling tidak satu kekecewaan lagi terhapus.

Semoga saja film ini dapat memenuhi harapan dari para pembaca novel ayat-ayat cinta dan juga masyarakat luas yang menantikan cerita islami semacam ini.

Aku sendiri termasuk seneng banget sama novelnya, dulu awal baca hanya iseng karena ditawarin baca sama mamit yang kebetulan memang sudah punya bukunya terlebih dahulu. Aku langsung tertarik saat baca awalnya dan akhirnya minjem, selesai bacanya alias khatam pas ditengah2 hutan taman nasional baluran, jawa timur. waktu itu lagi jadi tim penelitian terumbu karang ReefCheck. Wah pokoknya saya nunggu nonton di bioskop hari ini (19 Des) walau gosipnya untuk jogja tanggal 21 Des besok. tidak apa lah, yang penting nonton. Mas Hanung (sutradara) dan semua orang yang memproduksi film ini, Tolong jangan kecewakan kami. Terima kasih.

Laporan setelah nonton nanti ku posting lagi deh. Keren nih, habis nonton quickie express trus nonton ini (tobat). Jangan dibalik ya, nonton ini dulu trus nonton quickie express (untobat – kebalikannya tobat apa ya?).

7 comments

  1. hehehe.. pokoknya harus nonton!!
    *Quickie Express –> film tergila tahun ini!
    *Ayat-Ayat Cinta –> film paling menginspirasi tahun ini, maybe..

  2. semoga dengan adanya film yang bertepatan dengan tahun baru 2008 ini memberikan inspirasi baru bagi generasi muda Indonesia akan sebuah karakter tokoh-tokoh yang pantas untuk di tiru… GENERASI EMAS INDONESIA!!!! MERDEKA!

  3. Ayat-ayat cinta emang novel pembangun jiwa bagi siapa yang baca dan bagi sipa yang belum membaca akan tertari untuk membacanya

  4. mas2, yang meranin aisyah itu klo ga salah karin VJ MTV degh…

    mmm…saya jg suka kecewa berat dg novel/buku terkenal dan bestseller, yang kemudian diangkat menjadi film/movie. yah, contoh yang simple aja ky harry potter. bahasa JK rowlling yg menembus daya imajinasi kita, ga bisa di sandingkan dg film nya yg cm terlihat bagus pd segi effeknya, dan bukan isi dr ceritanya. sayang sekali…
    but u/ box office series spt band of brothers yang di adaptasi dr buku nya stephen ambrose ga terlalu mengecewakan. bagus bgt garapannya oleh steven spielberg n tom hanks…

  5. @ zahra
    aku gak tau yang mana yang valid, tapi kalo dari poster filmnya, nama karin gak ada deh, dan kalo dilihat2 di websitenya, kayaknya aku yakin beneran kalo yang jadi aisyah tuh rianti. Buka aja websitenya.

  6. oyagh bro, makasi dagh ngasi tau…solanya pas saya search trnyta salah nama…saya ga bgitu tau VJ MTV…yg pasti pmerannya yang jd VJ MTV indonesia…he..v(^_^)

  7. @zahra
    sip lah, kata berita terbaru, katanya akhir februari baru keluar, kita lihat aja realisasinya. kayaknya dah lama molor nih releasenya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is using OpenAvatar based on