my bollywood soul – simple review bollywood movie

Menurut beberapa orang yang pernah saya tanya tentang bollywood (industri film india), tanggapannya sama atau bisa dibilang tidak beda2 jauh lah, apa lagi yang kutanya itu cowok, ada beberapa jawaban yang kalo di simpulkan bisa berarti demikian:

“Film bollywood tuh agak gimana gitu? cengeng lah, ibu2 banget, wagu pokoknya.”
“Semua masalah kayaknya bisa diselesain ama menyanyi dan menari.”
“Jalan ceritanya ya itu2 aja, gak berbobot.”

Yah, yang jelas prioritas jawaban yang kudapat itu adalah banyak yang menilai kurang begitu berkualitas, dan cenderung ke tidak rekomendasi untuk ditonton lah.

Tapi berhubung saya ini orangnya objektif, maka akan saya bahas beberapa hal menurut saya tentang film bollywood ini. bagi yang berminat atau sealiran (hahaha) silahkan teruskan baca. bagi yang tidak suka, baca ini juga gak dosa kok.

Jadi begini, menurut saya itu bollywood adalah industri film yang lumayan maju, bahkan sepertinya kita sendiri sudah tahu berapa banyak film2 india yang masuk ke negara kita yang mirip2 namanya ini – indianesia – bercanda nih. yang saya maksud indonesia – sama2 bisa bisa dibilang Hindia. – saya soalnya juga seorang nasionalis demokratis (artinya apa nih).

Mungkin film2 bollywood mendapat Image seperti itu karena pandangan orang yang terkesan mendeskriditkan terlebih dahulu sebelum benar2 melihatnya, dan mungkin karena yang menonton kebanyakan kaum ibu atau orang2 yang cengeng2 saat melihat cerita2 sedih dan terkadang terlalu terlarut yang kemudian memberikan reaksi yang agak berlebihan, dan kebanyakan merasa risih tentang hal itu dan sebagian menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang aneh. Padahal itu mungkin hanya sebuah emosi yang muncul dan diekspresikan dengan cara masing2, atau mungkin orang2 sekarang memang tidak berani mengekspresikan perasanaanya, hmm, no offense ya.

Dulu jaman2 saya waktu kecil cerita film india masih classic, yaitu bercerita tentang balas dendam keluarga, atau cinta yang ditentang salah satu pihak keluarga, belum begitu berkembang, maka dari itu saya menyebutnya classic bollywood. Tokoh2 di classic bollywood ini sudah tentu tidak asing kita dengar: inspektur Vijay, tuan Takur, dan beberapa beberapa tokoh lain yang tentunya anda2 semua sudah sangat mengenal mereka walaupun hanya sering mendengar namanya saja.

Bollywood modern atau bisa dibilang “improved bollywood” sudah lumayan berkembang, baik dari segi cerita, nyanyian, tarian maupun dari beberapa segi lain. Film bollywood modern yang saya tahu dimulai dengan kemunculan film seperti Kuch Kuch Hota Hai pada tahun 1998. Hal ini hampir mirip dengan kemunculan film Ada Apa Dengan Cinta di indonesia yang menjadi salah satu film yang mendorong kebangkitan industri film negara kita.

Dari beberapa segi yang tadi saya bilang Impoved itu salah satunya adalah jalan cerita. Jalan cerita modern bollywood sudah sedikit berbeda dari bollywood classic, walaupun sebenarnya merupakan sebuah pengembangan dari yang sudah pernah ada, namun konsep yang dihadirkan dibuat agak lain sehingga mampu membuat penonton seperti saya ini tidak bosan dengan jalan cerita tersebut – atau seleraku saja yang payah.

Contohnya pada Kuch Kuch Hota Hai yang mengisahkan cinta segitiga semasa kuliah antara Tina Malhotra (Rani Mukherji) – Rahul Khanna (Shah Rukh Khan) – Anjali Sharma (Kajol) yang berakhir dengan berpisahnya Rahul dan Anjali (Karena saat itu Rahul memilih Tina dan Rahul tidak tahu kalo sebenarnya Anjali suka dengan Rahul). Namun perpisahan ini bukan akhir dari film tersebut, karena dengan inisiatif Anjali Khanna (Sana Saeed) – yang merupakan anak hasil pernikahan Rahul dan Tina – maka Rahul dan Anjali dapat bertemu kembali di sebuah Summer Camp yang diikuti oleh Anjali Sharma dan Anjali Khanna. Dalam summer camp ini dikisahkan tentang usaha Anjali Khanna untuk mendekatkan ayahnya ke Anjali Sharma sesuai amanat dari ibunya – Tina – dalam surat wasiat untuknya.
Usaha tersebut akhirnya berhasil, walau tidak mudah, karena saat itu Anjali Sharma sudah bertunangan dan sudah siap untuk menikah dengan Aman Mehra (Salman Khan). Keberhasilan ini tidak terlepas dari jiwa besar Aman yang rela melepas Anjali untuk bersama Rahul. Mungkin untuk konsep cerita bollywood classic, hal ini terlalu susah dan rumit untuk dimengerti oleh orang kala itu. Bagi anda yang belum menonton, silahkan coba, tidak ada salahnya. Bagi yang sudah menonton, silahkan melihat lagi, tidak ada salahnya juga, hehehe.

Orang yang sukses mengantarkan film ini adalah sang sutradara Karan Johar – yang juga dikenal melalui acara talkshow berjudul Coffee With Karan. Karan Johar juga orang yang sukses dibalik film2 india lainnya, seperti K3G (Kabhi Khushi Kabhie Gham), Kal Ho Na Ho, Mohabbatein, dan lain-lain – baik sebagai sutradara, produser, costume designer ataupun peran lainnya.

Bersama sutradara seperti Yash Copra, Rakesh Roshan, Aditya Copra, dan beberapa sutradara lain, Karan Johar berhasil membawa bollywood diakui, bahkan sempat saya dengar pernyataan di salah satu acara televisi internasional bahwa bollywood adalah saingan dari hollywood, bahkan produksi filmnya sempat mengungguli kala itu, tapi saya sendiri kurang begitu paham tentang hal ini.

Yang sedikit disayangkan dari film2 bollywood ini mungkin tentang tempat pengambilan gambar yang kebanyakan tidak berada di India sendiri, tapi diluar negeri seperti Inggris, Swiss, Amerika dan negara2 barat lainnya. Hal ini disatu sisi memberikan kesan glamor yang membangun karakter baru film india tapi disisi lain membuat film2 ini tidak benar2 film india. Tapi mungkin itulah yang menjadi kekuatan modern bollywood.

Ada sedikit trivia atau informasi menarik tentang film2 india ini. Jika anda memperhatikan benar2 pada setiap film2 yang ada, maka akan anda temui kemunculan beberapa tokoh (special appearance) yang sebenarnya tidak ada dalam cerita film tersebut. Hal ini biasanya terjadi pada film2 yang memiliki produser/sutradara atau rumah produksi yang sama.

Sedikit contoh dari beberapa hal ini bisa anda temui pada film Kal Ho Na Ho dimana pada saat tarian dan nyanyian yang berjudul “Maahi Ve” (saat pertunangan Rohit dan Naina) muncul dua karakteryang sebenarnya bukan bagian dari film tersebut, tokoh itu adalah Kajol dan Rani Mukherji yang hanya muncul selama beberapa detik saja pada scene tarian itu. Ini juga dapat ditemui di film2 yang lain dengan karakter yang sama.

Untuk Tarian dan Nyanyian Bollywood, nyusul di part 2 ya.

13 comments

  1. Wouw…..

    menyebaLkan sekali orang yg menyimpulkan Bollywood seperti itu,coz Q penggemar fanatiknya banget!!!

    Ych kecuali tuk yg film jadul and tamilnya!! Tuk yg bagian itu, q ga suka….

    Mnurut Q sebagian besar ceritanya itu baguzzzz kok! Setidaknya lbih baik dari Indonesia…merka tuh punya segi cerita yg kreasi n menarik….

    beda ma indo, rata-rata isi Filmnya sama…apLagi Sinetronnya,,,rata-rata ceritanya “yang miskin ditindas yg kaya’!!! Halaaaah…..

  2. Dipikir-pikir sich.. ntar industri film Indonesia juga bakalan menjelma kayak Bollywood dech..
    \
    Liat aja, produser film kita kebanyakan udah bau Hindia-isme gitu..
    improt.. ehh impor bo..

  3. aku mmng sk film india apalagi film kuch2 hota hai coz seruuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! abizzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz dahy yaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. @vicky: tuh ada film barunya shahrukh yang judulnya “My Name Is Khan”, kayaknya bagus tuh…tapi garapannya 21st century fox. Hebat juga film india garapannya Hollywood, tapi jadi bukan Bollywood ya… hahaha 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is using OpenAvatar based on