Jogja Istimewa Untuk Indonesia Jaya

Beberapa hari yang lalu saya berjalan di salah salah satu jalan protokol di kota kelahiran saya Jogjakarta, kemudian ada suara germuruh dari segerombolan orang yang naik motor seperti layaknya orang kampanye meski tidak membawa atribut apapun, hanya baju biasa saja. Orang-orang tersebut kemudian membagikan selebaran berupa kertas folio yang penuh dengan tulisan. Ternyata segerombolan itu adalah orang yang kembali menyuarakan tentang isu UU Keistimewaan Yogyakarta. Memang dulu isu ini sempat ramai dan dibahas di kalangan anggota DPR. Berbagai upaya pun telah diusahakan oleh orang Jogja untuk tetap mempertahankan status Keistimewaan Yogyakarta.

Saat ini isu itu seperti telah dilupakan, kalah dengan isu-isu lain yang lebih heboh seperti kasus kaburnya beberapa koruptor keluar negeri atau kasus-kasus lain yang lebih ‘menjual’. Tapi dari aksi yang saya temui tadi, ternyata orang Jogja sendiri tidak pernah melupakan dan tetap memperjuangkan status Keistimewaan Jogja ini. Yang menjadi kekaguman saya bukanlah aksi putar-putar kota dengan kebisingan dari suara motor itu, tapi tentang selebaran yang dibagikan. Setelah membaca tulisan yang terdapat didalamnya saya merasa betul bahwa tulisan itu mewakili orang Jogja, dalam hal ini adalah segi pembahasaannya, terasa halus namun tegas. Berikut potongan dari tulisan tersebut:

Ada suatu tradisi kultural yang harus dihormati di Jogja, yaitu masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dengan falsafah hidup orang Jawa-nya dikenal dengan kesantunannya, sikap toleransinya agar tercipta keharmonisan yang manjing ajur-ajer, berbaur tanpa merusak tatanan atau sistem yang telah ada. Namun sekaligus masyarakat Jogja juga diajarkan fakta historisnya Jogja tidak pernah melukai harga diri bangsa ini dengan melakukan pengkhianatan atau pemberontakan apalagi pengingkaran terhadap Merah Putih dan Pancasila. Bahkan dari dan oleh Jogja lah Republik Indonesia yang kala itu baru lahir, terselamatkan, tetap diakui eksistensinya dan terjaga harga dirinya di mata dunia internasional.

Namun, apa yang terjadi di pentas panggung Republik Indonesia saat ini adalah semakin memudarnya rasa patriotik, nasionalisme, kebangsaan yang ditandai munculnya dengan gerakan sektarian atas nama agama, suku, ras, golongan. Munculnya anak-anak bangsa ini yang tidak punya andil sedikitpun pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, bersikap angkuh, merasa paling benar dan berhak, menafikkan jasa-jasa para Founding Fathers dengan kata lain melupakan sejarah.

Ditambah lagi dengan semakin menjamurnya pragmatisme politik, budaya, pendidikan, kesenjangan ekonomi, telah menjadi fenomena akut dalam berbagai aspek kehidupan. Di tengah masyarakat kita menggejala suasana depresi sosial secara sistemik yang disebagkan oleh hilangnya rasa cinta sesama anak bangsa. Kelas elite kehilangan kepekaannya pada kawula alit. Sedang rakyat kecil juga saling mendzalimi rakyat kecil lainnya yang dianggap lebih lemah atau berbeda selera keyakinan, bendera dan akhirnya sikap fanatisme pada kelompknya menjadi pemandangan yang ada dimana-mana. Akibatnya masyarakat kecil yang menjadi ‘tumbal’ dari beragam suasana carut-marut tersebut.

Maka segala potensi kerusuhan maupun upaya menciderai keistimewaan Jogja harus dibendung dan dihadang. Gerakan agar Jogja tetap aman dan nyaman musti berporoskan pada pelaksanaan Pancasila, nurani pada tataran moralitas secara kolektif, simultan dan berkesinambungan. Tidak cukup dengan spanduk, jargon klaim massa terbanyak dan sudah bukan modelnya ‘numpang terkenal’.

 
August 18th, 2011
LifeStyle, Personal

Comments are closed.

Search

Enter Search KeyWord:     

Archives